Staf Input :
yoo

Proses Difusi Dan Adopsi Inovasi Program Kampung Berkebun (Studi Kasus: Kampung Berkebun Rw 04, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung)

Sub Judul
No Panggil TA/2020/2688 SAR
Jumlah Item Dipinjam Weeding Diperbaiki Tersedia
1 0 0 0 1
No Barcode Kembali User
No Barcode Lokasi
1 TUGAS AKHIR
No Barcode
No Barcode
Tipe Tugas Akhir
Koleksi JBPTITBSAPPK
Pengarang SARI, Chika Ramdhani Nurindah ;
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Tahun Terbit 2020
Kota Penerbit Bandung
Deskripsi Peningkatan pertumbuhan penduduk di Kota Bandung memberikan dampak berupa terjadinya konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian, sehingga lahan bercocok tanam semakin berkurang. Hal ini mengancam ketersediaan dan ketahanan pangan lokal yang diproduksi sendiri. Dalam menangani permasalahan tersebut, sejak tahun 2014 pemerintah Kota Bandung menerapkan inovasi berupa program kampung berkebun dengan konsep urban farming pada 151 kelurahan yang ada. Dalam keberjalanannya, tidak semua lokasi penerapan berhasil mengembangkan program. Salah satu lokasi yang berhasil dan menjadi percontohan urban farming di Kota Bandung adalah RW 04 Kelurahan Pajajaran, yang dapat menjadi rujukan dalam proses penyebarluasan inovasi bagi kelurahan atau kota lain. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi proses difusi dan faktor yang paling memengaruhi kecepatan masyarakat dalam mengadopsi inovasi. Dengan melakukan tinjauan literatur, didapat 4 elemen utama difusi inovasi yaitu inovasi, saluran komunikasi, waktu dan sistem sosial. Penelitian menggunakan metode pendekatan campuran secara deskriptif, dengan menggunakan 4 jenis analisis yaitu analisis konten, analisis statistik deskriptif, inferensial dan regresi linier berganda. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa proses difusi program kampung berkebun di RW 04 Kelurahan Pajajaran berjalan dengan baik dimulai sejak tahun 2014 hingga saat ini, dengan elemen difusi yang memengaruhi berupa saluan komunikasi dengan agen peubah, atribut atau karakteristik inovasi, cara pengambilan keputusan inovasi secara opsional, serta kesesuaian program dengan norma dan kebiasaan masyarakat. Kemudian, ditemukan pula bahwa subfaktor komunikasi interpersonal atau tatap muka memiliki pengaruh paling dominan dalam memengaruhi kecepatan adopsi inovasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagai lokasi percontohan, faktor yang paling memengaruhi kecepatan masyarakat dalam mengadopsi program adalah saluran komunikasi dengan cara interpersonal, yang berbentuk sosialisasi door to door, sosialisasi massal, pelatihan, terutama komunikasi dalam tahap bujukan oleh agen peubah.
Subjek Tubagus Furqon Sofhani, Ir., MA., Ph.D
Kata Kunci Difusi dan adopsi inovasi, kampung berkebun, urban farming, factor kecepatan adopsi inovasi
Referensi Ya
Perolehan Wajib
Catatan xiv, 311 hlm.; 30 cm
Login