Staf Input :
yoo

Skala Optimal Penyediaan Air Bersih Di Provinsi Jawa Barat

Sub Judul
No Panggil 1042/T/2012 HEN
Jumlah Item Dipinjam Weeding Diperbaiki Tersedia
2 0 0 0 2
No Barcode Kembali User
No Barcode Lokasi
1 Tesis
2 Tesis
No Barcode
No Barcode
Tipe Tesis
Koleksi
Pengarang HENDRAWAN, Hendra ;
Penerbit Prodi PWK SAPPK-ITB
Tahun Terbit 2012
Kota Penerbit Bandung
Deskripsi Desentralisasi dan privatisasi penyediaan air bersih di Indonesia telah menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penyedia air bersih dengan skala produksi yang kecil dan cakupan pelayanan yang rendah atau kurang dari 10.000 sambungan langsung (SL). Jumlah penyedia air bersih dengan skala produksi yang kecil terdaftar sebanyak 106 penyedia pada tahun 2001. Jumlah tersebut bertambah menjadi 348 penyedia pada tahun 2010. Dari peningkatan jumlah penyedia air bersih, cakupan area pelayanan hanya bertambah sebesar 6%, dari yang semula 18% menjadi 24%. Persentase capaian ini dibawah target yang diharapkan berdasarkan target MDGs sebesar 48% pada akhir tahun 2009. Selain itu, berdasarkan data dari Direktori Persatuan Perusahaan Air Minum Indonesia, 2010, terjadi peningkatan jumlah penyedia yang memiliki kinerja tidak sehat. Sampai saat ini tercatat sebanyak 234 penyedia dengan kinerja tidak sehat atau jumlahnya dua kali jumlah penyedia dengan kinerja sehat (103 penyedia). Berdasarkan kondisi tersebut, dapat diketahui bahwa penambahan jumlah penyedia air bersih dengan skala produksi yang kecil sangat tidak efisien, baik dari aspek cakupan pelayanan maupun pembiayaan. Sistem penyediaan air bersih merupakan infrastruktur yang memerlukan biaya investasi yang tinggi. Berdasarkan teori ekonomi, efisiensi pada infrastruktur ini dapat diperoleh apabila skala produksi berada dalam skala optimal. Skala optimal penyediaan air bersih di Indonesia sampai saat ini belum diketahui. Skala optimal dapat diketahui, apabila ekonomisasi skala dalam sistem penyediaan air bersih terbukti keberadaannya. Secara teori ekonomi, ekonomisasi skala ada dalam sistem penyediaan air bersih, namun beberapa penelitian menunjukan ekonomisasi skala tidak selalu ada. Penelitian ini ditujukan untuk membuktikan keberadaan ekonomisasi skala dan menentukan skala optimal penyediaan air bersih di Provinsi Jawa Barat. Pemilihan Provinsi Jawa Barat sebagai objek penelitian berdasarkan kepada pertimbangan dimana jumlah dan kepadatan penduduk rata-rata tinggi, dan karakteristik lingkungan yang bervariasi. Objek penelitian difokuskan pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang merupakan bagian dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dimana PDAM sampai saat ini masih mendominasi ii pelayanan air bersih di Indonesia. Data yang digunakan terdiri dari 108 unit sistem produksi dan 59 unit sistem distribusi. Data ini tersebar di delapan PDAM yaitu PDAM Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Idramayu, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Kuningan. Metode yang digunakan untuk membuktikan keberadaan ekonomisasi skala dan menentukan skala optimal penyediaan air bersih yaitu dengan menggunakan metode kuantitatif. Pembuktian keberadaan ekonomisasi skala dan penentuan skala optimal berdasarkan kepada fungsi biaya sistem penyediaan air bersih. Untuk itu perlu dilakukan estimasi fungsi biaya yang mewakili variasi biaya sistem penyediaan air bersih. Fungsi biaya dalam penelitian ini menggunakan model regresi dengan bentuk fungsi translog dengan hedonik. Bentuk fungsi biaya ini secara empiris merupakan bentuk terbaik untuk membuktikan keberadaan ekonomisasi skala dan menentukan skala optimal penyediaan air bersih. Dengan melakukan diferensiasi orde pertama fungsi biaya sistem produksi dan distribusi terhadap volume air yang dihasilkan, maka dapat dianalisis keberadaan ekonomisasi skala dan nilai skala optimal penyediaan air bersih. Berdasarkan hasil penelitian, ekonomisasi skala untuk sistem penyediaan air bersih di Provinsi Jawa Barat terbukti keberadaannya. Adapun skala optimal untuk sistem produksi berdasarkan variasi sumber air dan sistem pengaliran adalah sistem produksi sumber air permukaan dengan pompa sebesar 2.296.872 m3/tahun, sistem produksi sumber air permukaan dengan gravitasi sebesar 4.819.763 m3/tahun, sistem produksi sumber air sumur dalam sebesar 1.585.595 m3 dan sistem produksi sumber air mata air sebesar 5.389.698 m3. Sedangkan skala optimal untuk sistem distribusi yaitu sistem distribusi dengan pompa sebesar 7.502.668 m3/tahun dan sistem distribusi dengan gravitasi sebesar 6.788.695 m3/tahun. Jumlah populasi optimal dan kepadatan pelanggan optimal untuk sistem distribusi dengan gravitasi yaitu populasi sebanyak 165.333 jiwa dan kepadatan pelanggan sebesar 0,228 SL/m, sedangkan untuk sistem distribusi dengan pompa yaitu populasi sebanyak 145.862 populasi dan kepadatan pelanggan sebesar 0,326 SL/m. Dengan memperhatikan skala optimal dan potensi air dari masing-masing lokasi objek penelitian, maka untuk memenuhi kebutuhan penyediaan air bersih dapat dibentuk zona pelayanan interkoneksi. Adapun zona pelayanan interkoneksi tersebut yaitu zona pelayanan interkoneksi Bodebek terdiri dari Kota Bogor, Kota Bekasi, Kota Depok dan Kabupaten Bekasi, zona pelayanan interkoneksi Bandung Raya-Sumedang terdiri dari Kota Cimahi, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten bandung Barat dan Kabupaten Sumedang, dan zona pelayanan interkoneksi Ciamis-Banjar terdiri dari Kota Ciamis dan Kota Banjar. Sedangkan untuk daerah lain dapat mengoptimalkan pelayanan internal daerah masing-masing. Berdasarkan skala optimal diperoleh jumlah total sistem yang diperlukan untuk melayani kebutuhan penyediaan air bersih di Provinsi Jawa Barat yaitu 1.862 untuk sistem produksi dan 688 untuk sistem distribusi
Subjek Infrastruktur
Kata Kunci Skala optimal, Penyediaan air bersih, Provinsi Jawa Barat
Referensi Tidak
Catatan xviii, 152 hlm.; 30 cm
Login