DISRUPTION: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber
Sub Judul
Call Number 158.1 KAS d
Tahun Terbit 2017
Penerbit Kompas Gramedia
Pengarang KASALI, Rhenald -
Subyek Psikologi
Deskripsi
Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook
Sub Judul
Call Number 300.723 MIL q
Tahun Terbit 1994
Penerbit SAGE Publications
Pengarang MILES, Matthew B - A. Michael Huberman
Subyek Social Sciences
Deskripsi
Understanding the Informal City
Sub Judul
Call Number R 711.4 MAR u
Tahun Terbit 2019
Penerbit ITB Press
Pengarang MARYATI, Sri -
Subyek Cities and Towns
Deskripsi
Reflections on Urban, Regional and National Space
Sub Judul
Call Number R 307.12160952 UZO r
Tahun Terbit 2018
Penerbit Routledge
Pengarang UZO, Nishiyama -
Subyek Community Planning and Development
Deskripsi
Public Space: Between Reimagination and Occupation
Sub Judul
Call Number R 307.76 HRI p
Tahun Terbit 2018
Penerbit Routledge
Pengarang HRISTOVA, Svetlana - Marius Czepczynski
Subyek Communities
Deskripsi
Big Data for Regional Science
Sub Judul
Call Number R 307.120727 SCH b
Tahun Terbit 2018
Penerbit Routledge
Pengarang SCHINTLER, Laurie A - Zhenhua Chen
Subyek Communities
Deskripsi
The Routledge Handbook of Planning Theory
Sub Judul
Call Number R 307.1216 GUN r
Tahun Terbit 2018
Penerbit Routledge
Pengarang GUNDER, Michael - Ali Madanipour and Vanessa Watson
Subyek City Planning
Deskripsi
Model Estimasi Kesejahteraan Berkelanjutan Melalui Kualitas Lingkungan Tempat Tinggal di Wilayah Dinamis Sub Urban (Studi Kasus: Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia)
Sub Judul
Call Number 57 D/L-ITB/2019 AST
Tahun Terbit 2015
Penerbit Prodi Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia
Pengarang ASTUTI, Lina Tri Mugi -
Subyek Prijono Tjiptoherijanto, SE., MA., Ph.D., Prof
Deskripsi
Sense Of Place Dalam Perubahan Dan Penciptaan Tempat Setelah Bencana Studi Kasus: Kawasan Wisata Lava Tour, Gunung Merapi, Sleman
Sub Judul
Call Number 56 D/PWK/2019 IMR
Tahun Terbit 2019
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang IMRAN, Sarojini -
Subyek Prof. Drs. Arief Rosyidie, MSP, M.Arch., Ph.D.; Dr. Ir. Denny Zulkaidi, MUP; Dr. Saut Aritua Hasiholan Sagala, S.T., M.Sc.
Deskripsi Pengambilan keputusan dalam pemulihan tempat yang telah mengalami perubahan fisik yang cukup besar, selama ini lebih didominasi pertimbangan aspek keselamatan dan teknis fisik pembangunan yang lebih dominan. Perubahan tempat yang terjadi akibat bencana ataupun peristiwa lain yang tidak diharapkan, dapat mempengaruhi psikologi penghuninya, terlebih penghuni yang sudah lama menetap. Penghuni tidak saja mengalami perubahan tempat karena peristiwa yang tak terduga, namun keputusan penciptaan tempat dalam perencanaan pemulihan sendiri juga sering memaksakan perubahan yang lebih besar yang harus dialami penghuni, sehingga kerap menimbulkan masalah. Dalam hal pemindahan lokasi (relokasi) dan disain tempat, meski perencanaan telah dirancang dengan sebaik mungkin mengikuti kaidah-kaidah perencanaan yang tepat, namun sering terjadi penolakan. Ini menunjukan bahwa perencanaan tidak cukup hanya mempertimbangkan persoalan fisik yang kasat mata (tangible) namun juga harus mempertimbangkan persoalan yang tidak terlihat (intangible), yaitu hubungan emosional individu atau kelompok terhadap tempat yang disebut sense of place, yang sangat mempengaruhi ekspektasi dan kepuasan akan tempat bagi individu maupun kelompok. Namun persoalannya bagaimana dengan sense of place sendiri apakah setelah mengalami bencana akan tetap bertahan atau mengalami perubahan? Dari hasil penelitian sebelum, masih belum memberikan kepastian, sebagian penelitian terdahulu menyatakan sense of place mengalami perubahan akibat bencana, dari hubungan emosional yang positif terhadap tempat (topophilia) berubah menjadi negatif seperti rasa takut atau trauma terhadap tempat (topophobia). Namun sebagian peneliti menyatakan peristiwa bencana tidak mempengaruhi adanya perubahan sense of place. Sehingga perlunya penelitian pengaruh perubahan dan penciptaan tempat terhadap sense of place, untuk dapat mengungkapkan kemana sebenarnya arah keinginan individu atau kelompok dalam keputusan penciptaan tempat. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan pengaruh perubahan dan penciptaan tempat terhadap sense of place. Penelitian ini juga mengungkapkan bagaimana eksistensi sense of place setelah mengalami bencana, apakah mengalami perubahan atau tidak baik akibat perubahan fisik tempat yang tidak diinginkan maupun yang diinginkan (placemaking). Penelitian dilakukan pada kawasan wisata yang terdampak bencana besar, aspek pariwisata sebagai faktor eksternal yang diangkat dalam menggali adakah pengaruhnya pada perubahan sense of place bagi masyarakat penghuni. Studi kasus yang dipilih adalah kawasan Lava Tour Merapi, Kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metodologi penelitian yang dipakai adalah perpaduan kualitatif-kuantitatif (mixed method eksplanatori sequensial) yang dikombinasikan dengan prosedur transformasi dengan tahapan Quan-Qual. Penelitian lebih bersifat induktif dengan faktor terbentuk secara simultan timbal balik. Analisis data-data primer diperoleh dari hasil wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus, berupa catatan wawancara dan diskusi, dilakukan seleksi dan disarikan ke dalam variabel-variabel yang telah ditentukan, sehingga diperoleh inti informasi yang dikuatkan dengan hasil diskusi kelompok masyarakat dan pembuatan peta oleh masyarakat sendiri. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa adanya perubahan dimensi sense of place pada beberapa objek tempat yang dipengaruhi oleh adanya perubahan dan penciptaan tempat. Aspek pariwisata memperkuat kedudukan sense of place dalam bentuk yang berbeda dari sebelum bencana. Ada sebagian penataan dan disain tempat yang tetap dipertahankan seperti sebelum maupun sesudah mengalami bencana, namun ada juga terjadinya penciptaan tempat (placemaking). Sebagian objek bertahan pada dimensi positif, sense of place dan sebagian mengarah pada dimensi negatif yaitu placelessness. Namun secara signifikan tidak ada perubahan dimensi topophilia ke arah topophobia. Penelitian ini memberikan kontribusi substantif dalam teori sense of place dan penciptaan tempat yaitu bahwa meski bencana atau peristiwa yang tidak diinginkan menyebabkan perubahan tempat, tapi tidak selalu berarti mempengaruhi terjadinya perubahan sense of place. Penelitian ini merupakan pengembangan dari teori-teori sense of place sebelumnya, menjelaskan pengaruh perubahan tempat yaitu perubahan pergerakan, perubahan fungsi dan perubahan nilai budaya terhadap sense of place, akibat adanya peristiwa yang tidak diharapkan maupun yang diharapkan pada proses penciptaan tempat (placemaking). Kontribusi ini diharapkan dapat menjadi landasan praktis perencanaan pemulihan tempat khususnya pada kawasan wisata yang berorientasi pada aspek humanitas dan karakteristik lokal. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan acuan dalam keputusan penetapan tempat tinggal baru dan perubahan desain tempat dalam perencanaan pemulihan setelah bencana.
Evaluasi Kelembagaan Pengadaan Tanah Untuk Normalisasi Sempadan Sungai Di Wilayah Sub DAS Citarum Hulu
Sub Judul
Call Number 1558/T/2019 MON
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang MONOARFA, Fachrin -
Subyek Iwan Kustiwan, Ir., MT., Dr
Deskripsi Tanah merupakan kebutuhan dalam pelaksanaan pembangunan yang menduduki komponen yang paling utama, karena itu sebelum pelaksanaan suatu pembangunan harus ada terlebih dahulu tersedianya komponen tersebut. Sungai Citarum merupakan salah satu sungai terbesar yang mengalir melintasi kawasan Provinsi Jawa Barat. Sungai ini menjadi penopang kebutuhan air untuk kebutuhan pertanian, peternakan, ekonomi dan industri.Permasalahan perubahan guna lahan yang terjadi di Sub DAS Citarum mengindikasikan penurunan kualitas DAS dalam menjalankan fungsinya. Dalam menemukan inti dari permasalahan dalam pengadaan tanah untuk normalisasi di Wilayah Sub DAS Citarum Hulu digunakan salah satu kriteria evaluasi yakni Administrative Operability. Kriteria ini untuk mengevaluasi bagaimana kebijakan pada kelembagaan dapat diimplementasikan dari konteks administrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Kelembagaan dalam pengadaan tanah untuk normalisasi sempadan di Wilayah Sub DAS Citarum Hulu. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif untuk mengidentifikasi alternatif tahapan dan kendala pada pengadaan tanah dengan sumber data kajian peraturan dan wawancara, selain itu metode yang digunakan juga yaitu analisis isi untuk mengidentifikasi evaluasi kelembagaan secara administrative operability dengan sumber data wawancara semi terstruktur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa belum adanya perubahan waktu pelaksanaan tahapan pengadaan tanah yang lebih efektif, kendala berupa pendanaan masih mengandalkan APBD DIPA (Daftar Isian Pengadaan Anggaran) serta sumber daya manusia dengan tugas pokok dan fungsi belum tersedia di BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Citarum.Dengan demikian, diperlukan upaya perubahan berupa waktu pelaksanaan tahapan yang dibuat lebih singkat, pendanaan untuk pengadaan tanah yang langsung dibawahi oleh LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara) Kementerian Keuangan serta pembentukan Satker dan PPK yang tugas pokok dan fungsinya yaitu pengadaan tanah di BBWS Citarum.
Pengaruh Migrasi Terhadap Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kota Bogor
Sub Judul
Call Number 1557/T/2019 WAR
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang WARDANA, Norman -
Subyek Iwan Kustiwan, Ir., MT., Dr
Deskripsi Fenomena urbanisasi yang terjadi saat ini merupakan salah satu penyebab timbulnya peningkatan jumlah penduduk yang tidak terkendali di suatu wilayah perkotaan, dengan adanya fenomena urbanisasi di Kota Bogor akan mendorong masyarakat melakukan migrasi menuju perkotaan. Akibat adanya fenomena migrasi, dapat menambah beban kawasan perkotaan baik dari sisi ruang maupun intensitas aktivitas. Keadaan inilah yang menimbulkan potensi terjadinya daerah daerah permukiman kumuh dan ilegal pada suatu area yang semestinya tidak diperbolehkan ditempati dan mengakibatkan terjadinya kawasan permukiman kumuh. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan hubungan fenomena migrasi yang dewasa ini terjadi di perkotaan terhadap kualitas kawasan permukiman kumuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan observasi, dan kuesioner, sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis migrasi, analisis kawasan permukiman kumuh, analisis konten dan analisis statistik yang meliputi uji koefisien korelasi, uji regresi berganda dan koefisien determinasi. Kawasan yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah enam kawasan permukiman kumuh yang tersebar pada setiap kecamatan dengan jumlah sampel sebanyak 99 responden. Migrasi terjadi karena adanya perbedaan karakteristik tiap daerah sehingga menimbulkan perpindahan penduduk yang dikehendakinya. Dari hasil analisis data penelitian dan uji hipotesis diketahui bahwa pengaruh migrasi berpengaruh positif terhadap terjadinya permukiman kumuh di Kota Bogor, artinya semakin tinggi migrasi maka akan menyebabkan kawasan permukiman kumuh kualitasnya menurun khususnya pada kondisi fisik permukiman.
Keterkaitan Perkembangan Listing AIRBNB Dan Proses Gentrifikasi (Studi Kasus: Kota Bandung)
Sub Judul
Call Number 1556/T/2019 ISK
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang ISKANDAR, Zahara Sitta -
Subyek Adiwan Fahlan Aritenang, ST., M.GIT., Ph.D
Deskripsi Sharing economy hadir sebagai kekuatan baru dalam lingkungan bisnis dengan memanfaatkan peran teknologi digital. Pada beberapa studi kasus di negara maju, peran dari internet dan media sosial dalam sharing economy khususnya pada bidang akomodasi ternyata dapat mendorong terjadinya perubahan gaya hidup yang akhirnya mendorong terjadinya gentrifikasi. Sebagai salah satu pusat inovasi dan lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan skala internasional, sharing economy di Kota Bandung mengalami perkembangan yang cukup pesat. Untuk itu penting untuk melakukan identifikasi perkembangan sharing economy khususnya pada bidang akomodasi di Kota Bandung untuk melihat keterkaitannya dengan proses gentrifikasi yang terjadi. Identifikasi tersebut dilakukan dengan melakukan identifikasi perkembangan lisitng, identifikasi proses gentrifikasi, dan identifikasi keterkaitan perkembangan listing terhadap proses gentrifikasi. Identifikasi dilakukan dengan analisis kualitatif untuk mendeskripsikan fenomena perkembangan listing dan proses gentrifikasi secara spasial, dan analisis kuantitatif untuk melihat komponen yang mempengaruhi perkembangan listing dan keterkaitan perkembangan listing dan proses gentrifikasi. Pada kasus kota Bandung, perkembangan listing Airbnb umumnya terjadi di bagian utara. Secara spasial, peningkatan jumlah listing berkaitan dengan peningkatan tren occupancy rate dan dipengaruhi oleh komponen daya tarik kawasan dan demografi di suatu wilayah. Terkait dengan proses gentrifikasi, Kota Bandung mengalami gentrifikasi di kawasan pinggir kota, dan proses gentrifikasi tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan perkembangan listing Airbnb. Perkembangan listing umumnya terjadi di kawasan yang mengalami gentrifikasi sebagian, yaitu kecamatan yang hanya mengalami peningkatan ekstrim pada indeks ekonomi. Secara spasial, terdapat kemungkinan perkembangan listing Airbnb dapat menggeser long term rental market menjadi short term rental market.
Pengaruh Legalisasi Lahan Pada Jumlah Hak Tanggungan Di Kabupaten Bandung Barat
Sub Judul
Call Number 1555/T/2019 SAM
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang SAMUDRA, Wisnu Bima -
Subyek Haryo Winarso, Ir., M.Eng., Ph.D., Prof
Deskripsi Penelitian ini dilatarbelakangi dua hal, yaitu kebutuhan bukti empiris dari teori De Soto (2000) mengenai peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian legalitas aset di Indonesia, dan praktik penyelenggaraan program prioritas nasional legalisasi lahan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bandung Barat karena kelengkapan program legalisasi lahan yang diimplementasikan cukup lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh legalisasi lahan terhadap pendayagunaannya untuk akses kredit (Hak Tanggungan) serta mengkaji pola sebaran keruangan dari sebaran hak tanggunan. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggabungkan analisis spasial statistik dan statistik inferensial. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat pengaruh yang kuat antara jumlah legalisasi lahan yang diberikan terhadap pendayagunaannya untuk hak tanggungan. Kemudian berdasarkan persebarannya, pendayagunaan legalitas lahan untuk kredit (Hak Tanggungan) terpusat di wilayah perkotaan Bandung Barat yang terdiri atas beberapa kecamatan, antaralain Kecamatan Ngamprah, Kecamatan Parongpong, Kecamatan Padalarang, Kecamatan Lembang, dan Kecamatan Cihampelas. Penggunaan lahan yang dijadikan obyek hak tanggungan didominasi oleh rumah tinggal kelas menengah dan tinggi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kondisi perekonomian pemilik lahan obyek hak tanggungan juga didominasi oleh kelas menengah hingga tinggi.
Strategi Pengelolaan Sampah Kota Tangerang Selatan Berdasarkan Kriteria Kota Layak Huni
Sub Judul
Call Number 1554/T/2019 ANI
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang ANISA, Rizki -
Subyek Niken Prilandita, S.T., M.Sc., Dr
Deskripsi Timbulan sampah di Kota Tangerang Selatan terus mengalami peningkatan. Kenyataannya sejak desentralisasi, kualitas hidup penduduk sangat ditentukan oleh baik-buruk kinerja pemerintah daerah dalam kebersihan lingkungan seperti sampah hingga kualitas sekolah dan pelayanan kesehatan. Apabila penanganan sampah tidak tepat dilakukan maka dapat mengurangi kelayakhunian kota tersebut. Selama ini pemerintah terus melakukan upaya pengelolaan sampah, namun tidak ada kebijakan dan strategi yang jelas dengan target terukur sehingga persoalan akibat sampah tidak pernah berhenti terjadi. Hal inilah yang melatarbelakangi dikeluarkannya Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Jakstranas) pada Oktober 2017, yang dimaksudkan sebagai instrumen pedoman bagi pimpinan daerah untuk menyusun kebijakan dan strategi persampahan di daerah. Jakstranas saja belum cukup menjadi pedoman pengelolaan sampah untuk mewujudkan kota yang aman, nyaman, dan layak huni sesuai Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional dan Sustainable Development Goals. Diperlukan strategi pengelolaan sampah yang sesuai dengan target-target tersebut dan juga sesuai dengan karakter dan persoalan pengelolaan sampah yang terjadi di suatu kota untuk mendukung kelayakhunian kotanya. Tangerang Selatan baru-baru ini muncul sebagai Kota Layak Huni berdasarkan survey Ikatan Ahli Perencana Indonesia. Padahal Tangerang Selatan sendiri sedang mengalami persoalan sampah yang cukup besar di mana TPA Cipeucang yang dimiliki sudah mengalami kelebihan kapasitas. Penelitian ini kemudian dilakukan untuk merumuskan strategi pengelolaan sampah di Kota Tangerang Selatan berdasarkan kriteria kota layak huni. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memperoleh informasi mengenai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pengelolaan sampah Kota Tangerang Selatan. Analisis SWOT kemudian dilakukan untuk merumuskan strategi pengelolaan sampah. Hasilnya strategi pengoptimalan TPS 3R, ITF, Bank Sampah, dan Program Rumah Minim Sampah, edukasi, perubahan Peraturan Daerah, dan penegakan hukum merupakan prioritas strategi dalam meningkatkan kelayakhunian Kota Tangerang Selatan.
Kajian Dinamika Jejaring Kreatif Dalam Pengembangan Perdesaan Di Pusat Pariwisata Kreatif Kabupaten Bantul
Sub Judul
Call Number 1553/T/2019 CHA
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang CHARMYLLIA -
Subyek Tubagus Furqon Sofhani, Ir., MA., Ph.D.
Deskripsi Pengembangan ekonomi kreatif merupakan salah satu alternatif peningkatan daya saing wilayah berdasarkan pengetahuan. Kreatifitas terbukti dapat menjadi alternatif pengembangan wilayah. Karakteristik pedesaan yang dianggap homogen sebagai prasyarat perkembangan kreatif dalam berbagi pengetahuan pada praktiknya tidak selalu menjadi kendala. Penelitan mengenai ekonomi kreatif pedesaan memang telah meningkat secara signifikan namun masih belum ada framework pasti model pengembangan kreatif pedesaan. Adopsi praktik-praktik kreatif merupakan alternatif untuk mengembangkan ekonomi kreatif di pedesaaan. Namun, tempat yang lebih kecil (kota kecil dan pedesaan) tidak dapat meniru model kota besar dari pengembangan kreatif. Salah satu pendekatan teori untuk meneliti pengembangan kreatif di tempat-tempat kecil (kota kecil dan pedesaan) adalah berdasarkan sumber daya endogen, pengembangan kapasitas dan daya saing. Secara teori pengembangan kapasitas dan kreativitas untuk daya saing membutuhkan sistem inovasi sosial. Inovasi merupakan proses interaktif pembelajaran yang meningkatkan kompetensi aktor sehingga masyarakat yang bernilai sosial ekonomi dapat diciptakan dari pengetahuan. Jejaring kreatif merupakan wadah proses interaktif inovasi. Jejaring kreatif menjadi sarana untuk menciptakan dan berbagi pengetahuan, yang merupakan sumber daya dasar dalam pengembangan kreatif. Penelitian mengenai jejaring kreatif masih jarang ditemukan. Penelitian ini mengeksplorasi dinamika jejaring sosial yang berkembang pada pusat ekonomi kreatif khususnya pedesaan Kabupaten Bantul. Analisis menggunakan dynamic social network analysis dengan data longitudinal. Dynamic network dapat memberi informasi dinamika jaringan mengacu pada sifat perubahan jaringan dari waktu ke waktu sehingga dapat memberikan informasi bagaimana interaksi dalam jejaring terbentuk, berkembang dan bertahan. Penelitian ini menghasilkan identifikasi aktor yang berperan dan relasinya dalam pembentukan dan perkembangan jejaring kreatif, kuantifikasi hubungan jejaring aktor berdasarkan kategori per fase dan peran aktor dalam transfer pengetahuan di jejaring kreatif per fase. Hasil penelitian dapat memberikan preseden pembentukan dan perkembangan praktik ekonomi kreatif pedesaan melalui dinamika jejaring kreatif.
Tinjauan Desentralisasi Desa Di Indonesia: Kajian Reformulasi Penganggaran Dana Desa Tahun Anggaran 2017 Dan 2018
Sub Judul
Call Number 1552/T/2019 ROS
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang ROSANDI, Vely Brian -
Subyek Adiwan Fahlan Aritenang, ST., M.GIT., Ph.D
Deskripsi Penelitian ini bertujuan untuk meninjau desentralisasi desa di Indonesia terkait dengan formula penganggaran dana desa tahun 2017-2018 dan bagaimana kajian reformulasi penganggaran dana desa yang sesuai. Untuk mencapai tujuan tersebut selain melihat karakteristik umum kondisi penganggaran dana desa tahun 2017 dan 2018, peneliti juga menganalisis beberapa model dana desa dan variabel yang digunakan didalam menentukan dana desa 2017-2018. Untuk variabel yang digunakan merupakan turunan dari pejabaran Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, dan Perundang-Undangan yang mengatur tentang penganggaran dana desa 2017-2018. yang meliputi Alokasi Dasar (Jumlah Desa), Alokasi Formula (Jumlah Penduduk, Jumlah Penduduk Miskin, Luas Wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi), dan Alokasi Afirmasi (Desa Tertinggal dan Desa Sangat Tertinggal. Kemudian untuk model dana desa yang digunakan merupakan turunan dari penjabaran didalam Penelitian Lewis (2015) yang meliputi Kebutuhan Fiskal Desa, Dana Desa Original, Dana Desa Aktual, Dana Desa Ideal serta Kesalahan Alokasi. Selain itu terkait dengan reformulasi dana desa 2017-2018 menggunakan skenario optimasi melalui optimasi bobot dan alfa. Dari seluruh hasil penelitian disimpulkan bahwa penganggaran dana desa tahun 2017-2018 masih menimbulkan terjadinya ketidakadilan dan kesalahan alokasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan fiskal ideal desa. Sehingga reformulasi dana desa menggunakan skenario optimasi dapat menjawab sesuai kebutuhan fiskal ideal desa serta mengurangi kesalahan alokasi yang terjadi.
Pengembangan Model Dampak Guna Lahan Terhadap Jumlah Penumpang Sistem Angkutan Umum Massal (SAUM) Dalam Konteks Potensi Kawasan Transit Oriented Development (TOD) (Studi Kasus: Rencana Kawasan TOD di Rencana LRT Koridor III Kota Bandung)
Sub Judul
Call Number 1551/T/2019 CHO
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang CHOERUNNISA, Diary Nurwidya -
Subyek Puspita Dirgahayani, ST., M.Eng, Dr.Eng
Deskripsi Persoalan kemacetan di Kota Bandung mendorong pemerintah Kota Bandung untuk mengembangkan transportasi umum massal, yaitu LRT. Berdasarkan draft Rencana Induk Transportasi Kota Bandung, salah satu koridor yang diprioritaskan pengembangannya yaitu LRT Koridor III. LRT Koridor III direncanakan memiliki sebelas stasiun dengan rute loopline dari Stasiun Kebon Kawung Bandung hingga Viaduct. Rencana stasiun-stasiun tersebut direncanakan akan dikembangkan menggunakan konsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep TOD merupakan sebuah konsep pengembangan kawasan yang mengintegrasikan antara penggunaan lahan dengan transportasi umum massal (transit). Terdapat hubungan positif antara TOD dengan penggunaan angkutan umum massal. Salah satu aspek penting didalam kawasan TOD adalah bentuk penggunaan lahan. Aspek penting didalam TOD diyakini akan mampu meningkatkan penggunaan angkutan umum massal. Di Indonesia, terdapat Pedoman Pengembangan Kawasan Berbasis Transit (Permen ATR Nomor 16 Tahun 2017), pedoman tersebut sudah mengatur mengenai penggunaan lahan di kawasan TOD namun belum diketahui performanya untuk meningkatkan penggunaan SAUM. Penelitian-penelitian terdahulu pun melihat hubungan antara guna lahan dan penggunaan SAUM pada konteks Kawasan TOD yang sudah berkembang atau sudah berhasil dibangun, belum pada tahap rencana atau Kawasan TOD yang belum dikembangkan. Di Indonesia, pengembangan TOD lebih terfokus kepada pengembangan kawasannya, sedangkan secara teoritik dan preseden, TOD digunakan sebagai mekanisme keberlanjutan dari sistem transit, sehingga perlu diestimasi pengembangan kawasan TOD untuk dapat menghasilkan bangkitan/ tarikan penumpang yang tetap dapat mendukung sistem transitnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model dampak guna lahan terhadap jumlah penumpang SAUM dalam konteks rencana kawasan TOD. Pendekatan yang akan dilakukan adalah pendekatan ex-ante. Metode yang digunakan untuk pengembangan model tersebut yaitu analisis regresi. Variabel dependen yang digunakan yaitu jumlah pergerakan orang per jam dengan data ii berasal dari hasil traffic counting pada kondisi eksisting, dan terdapat enam variabel independen yang digunakan berasal dari rumusan kriteria indikator pada prinsip prinsip pengembangan kawasan TOD, yaitu jumlah jenis guna lahan yang berbeda, luas guna lahan perumahan, luas guna lahan campuran, luas guna lahan perkantoran, luas guna lahan perdagangan dan jasa, serta luas guna lahan sarana pelayanan umum. Temuan studi menyatakan model yang berhasil dirumuskan memiliki kelemahan dalam akurasi estimasi. Kelemahan tersebut disebabkan oleh faktor pemilihan variabel, penentuan sampel dan metode pengembangan model. Namun, model tetap dapat digunakan dalam memberikan pemahaman terkait guna lahan apa saja yang dapat memengaruhi jumlah pe numpang SAUM dan guna lahan mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap jumlah penumpang SAUM.
Perubahan Aset Produktif Komunitas Di Lokasi Program Perbaikan Permukiman Kumuh Kota Bandung
Sub Judul
Call Number 1550/T/2019 ARI
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang ARIJANI, Prima Dea -
Subyek Haryo Winarso, Ir., M.Eng., Ph.D., Prof
Deskripsi Perkembangan Kota Bandung dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi akibat urbanisasi, terutama para pendatang yang akhirnya menetap menyebabkan timbulnya permasalahan dalam hal perkembangan permukiman khususnya permukiman kumuh. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Bandung untuk menangani masalah permukiman kumuh melalui program perbaikan kampung sejak tahun 1978, namun belum diketahui informasi terkini yang menjelaskan perubahan aset sustainable livelihood pada lokasi program perbaikan permukiman kumuh di Kota Bandung pada saat program dijalankan dan saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan hasil program-program perbaikan kawasan permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Kota Bandung berdasarkan aset sustainable livelihoods, yang mencakup aset sumber daya alam, fisik, keuangan, sumber daya manusia dan modal sosial dengan metode penelitian kualitatif menggunakan analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa program yang memberikan dampak peningkatan aset livelihood paling banyak hingga saat ini yaitu BUDP I dan II, karena dapat meningkatkan aset sumber daya alam, fisik dan keuangan. Sedangkan untuk program dengan fokus perbaikan yang lebih komprehensif pada setiap aspek seperti P2KP dan PNPM memberikan dampak peningkatan aspek livelihood yang lebih sedikit dan hanya bertahan selama umur program.
Dampak Spasial Komunitas Berpagar Terhadap Kawasan Perkotaan Mamminasata
Sub Judul
Call Number 1549/T/2019 RAM
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang RAMLI, Pratiwi -
Subyek Petrus Natalivan Indradjati, ST., MT., Dr
Deskripsi Komunitas Berpagar berkembang di kota-kota besar Indonesia pada awal tahun 1990-an. Komunitas Berpagar adalah area perumahan yang dikelilingi serta dibatasi oleh pagar/gerbang, palang pembatas/portal yang memiliki akses terkontrol dan terbatas. Komunitas Berpagar tidak hanya sebatas pemukiman baru yang dibangun dengan gerbang dan pagar, tetapi juga lingkungan lama yang telah ditutup sebagai konsekuensi dari meningkatnya ketidakamanan perkotaan. Beberapa penelitian berpendapat bahwa Komunitas Berpagar memiliki dampak positif terhadap spasial seperti mendorong fasilitas dan infrastuktur yang lebih baik, namun mayoritas mengungkapkan bahwa Komunitas Berpagar menyebabkan sprawl serta fragmentasi kota. Komunitas Berpagar yang berkembang di Kawasan Perkotaan Mamminasata berkembang cukup pesat terutama di kawasan pinggiran kota. Agar dampak spasial yang disebabkan Komunitas Berpagar dapat diminimalisir, perlu mengidentifikasi seberapa jauh dampak spasial tersebut berpengaruh terhadap Kawasan Perkotaan Mamminasata. Penelitian ini menggunakan deskriptif-explanatori serta pendekatannya menggunakan evaluasi semu. Komunitas berpagar yang teridentifikasi di Kawasan Perkotaan Mamminasata berjumlah 392 perumahan. Hasil penelitian menunjukkan dampak spasial yang terjadi yaitu kecenderungan komunitas yang tersebar sprawl dan tidak teratur. Selain itu perubahan guna lahan cukup signifikan; beberapa Komunitas tidak homogen dengan pemanfaatan lahan di sekitar karena terletak di lahan pertanian. Fragmentasi spasial terjadi di lapangan karena mayoritas Komunitas di kelilingi pagar/tembok serta memiliki akses terkontrol, namun pelarangan penggunaan fasilitas publik di dalam komunitas berpagar tidak terjadi. Beberapa Komunitas tidak menyebabkan kualitas lingkungannya lebih baik dari sebelumnya serta mayoritas konektivitas jalan di Komunitas berpagar tertutup/terputus karena menerapkan sistem satu pintu.
Analisis Jejaring Dan Peran Aktor Terhadap Transformasi Organisasi AFN (Alternative Food Network) Di Kota Bandung (Studi Kasus Pada Komunitas 1000 Kebun)
Sub Judul
Call Number 1548/T/2019 QIR
Tahun Terbit 2019
Penerbit Magister Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang QIRA'ATI, Muhfidlatul -
Subyek Tubagus Furqon Sofhani, Ir., MA., Ph.D.
Deskripsi Ketahanan pangan bukan hanya menjadi tanggungjawab wilayah pedesaan namun kini perkotaan turut mengambil peran karena telah banyak masyarakat yang memikirkan melalui kemunculan suatu gerakan yang dikenal sebagai AFN (Alternative Food Network), seme ntara produksi kawasan pedesaan semakin terbatas. Ketahanan pangan tidak hanya produksi, namun pilar ketahanan pangan mencakup ketersediaan, aksesibilitas dan utilitas, stabilitas, keberlanjutan. Dalam hal ini, AFN memiliki peran. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya indikasi proses transformasi organisasi AFN di kota Bandung, kota non-produksi pangan. Kemunculan tindak kolektif ini merupakan suatu gerakan sosial yang kebanyakan melewati tahap kegelisahan, tahap kegusaran, tahap fomalisasi, pelembagaan. Pergeseran dan transformasi ini mengindikasikan adanya interaksi antar aktor. AFN adalah pergeseran budaya yang melibatkan komitmen terhadap aktor lokal. Interaksi antar aktor memungkinkan pertukaran ide kreatif yang memicu terciptanya inovasi. Jejaring menjadi suatu hal yang penting dalam transformasi organisasi AFN di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi organisasi AFN di Kota Bandung. Guna mencapai tujuan tersebut, ditetapkan dua sasaran. Sasaran pertama yaitu menganalisis fase-fase transformasi, ciri-cirinya serta faktor-faktor yang terlibat. Sasaran kedua yaitu menganalisis peran dan jejaring aktor dalam proses transformasi gerakan organisasi AFN. Sesuai dengan konsep quadruple helix, aktor yang terlibat yaitu pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kasus untuk mendapatkan hasil yang mendalam serta metode analisis konten dan Social Network Analysis (SNA). Berdasarkan hasil penelitian, Komunitas 1000 Kebun sebagai organisasi AFN telah mengalami proses transformasi dari gerakan yang terfragmentasi menjadi lebih terintegrasi. Kondisi terfragmentasi yaitu dimana sistem pembentukan ide dan sistem kerja tidak terorganisir dan bertumpu pada penggagas menuju kondisi terintegrasi dengan pendefinisian tujuan dan koordinasi strategi hingga partisipasi disiplin untuk membuat organisasi formal. Transformasi ini telah terjadi dalam 3 fase yaitu fase gerakan lokal dan kecil, fase kebutuhan menjadi gerakan yang lebih profesional, dan fase persiapan pembentukan NGO. Perubahan peran dan interaksi jejaring aktor telah berkontribusi terhadap transformasi Komunitas 1000 Kebun dari terfragmentasi menuju terintegrasi. Dalam setiap fase, interaksi aktor aktor tersebut telah memicu kebutuhan bertransformasi dari terfragmentasi menuju terintegrasi diantaranya peluang kolaborasi berkelanjutan untuk kemudian berbagi sumber daya, pengetahuan dan resiko, adanya kebutuhan model bisnis sosial yang berkelanjutan, kemudahan biaya kurasi peluang memperoleh funding, perbaikan pelayanan yang lebih terintegrasi, kebutuhan perluasan jejaring di Pasar Sehat dengan adanya tim yang berdedikasi. Pola jejaring yang terbentuk yaitu sinergi 4 aktor. Komunitas 1000 kebun aktif seba gai simpul yang menggerakkan sinergi 4 aktor dengan peran aktif konsumen sehingga terjadi open innovation. Pola jejaring ini mengikuti teori inovasi Q-Helix, menciptakan transfer pengetahuan dan informasi terjadi dengan baik yang kemudian menciptakan sirkulasi pengetahuan, menggerakkan aktor-aktor berkembang dan berinovasi, kemudian pasar berkembang dan tercipta budaya entrepreneur karena adanya akselerasi inovasi akibat peran aktif konsumen sebagai pemberi umpan balik terhadap perkembangan inovasi. Peran media telah mengoptimalkan inovasi dari eksternal. Peran akademisi telah menciptakan kedekatan dengan praktik bisnis, memenuhi kebutuhan komunitas, memperbesar sirkulasi pengetahuan, akselerasi inovasi dan perluasan jejaring inovasi. Hal ini dapat telah dan terus menjadi inspirasi kebijakan untuk pemerintah. Pola jejaring ini telah mempengaruhi perkembangan organisasi AFN namun diperlukan optimalisasi peran pemerintah dalam mendukung dan membuat kebijakan.
Login