Peran Pengembangan Agrowisata Dalam Mengendalikan Peri-Urbanisasi (Studi Kasus: Desa Cibodas, Kecamatan Lembang)
Sub Judul
Call Number TA/2018/2505 FAR
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang FARIDAH, Erviana Ayu -
Subyek Delik Hudallah, ST., MT., M.Sc., Ph.D
Deskripsi Kawasan pinggiran kota di Indonesia seringkali berkembang secara acak, seperti halnya yang terjadi di Kecamatan Lembang. Sejak tahun 2010, perkembangan pariwisata di Kecamatan Lembang ini semakin pesat sampai sekarang. Hal tersebut mengakibatkan semakin banyaknya lahan-lahan pertanian di Kecamatan Lembang teralihfungsikan menjadi lahan non-pertanian. Perkembangan pariwisata di Kecamatan Lembang ini juga mulai mengakibatkan adanya pergeseran karakteristik wilayah dan aktivitas masyarakat pinggiran kota. Fenomena alih fungsi lahan serta pergeseran karakteristik wilayah dan aktivitas masyarakat ini erat kaitannya dengan peri-urbanisasi. Peri-urbanisasi yang terjadi di Kecamatan Lembang ini dapat mengancam ketahanan pangan masyarakat Kecamatan Lembang apabila lahan pertanian terus-menerus kalah terhadap persaingan dengan pasar perkembangan pariwisata. Konsep agrowisata dianggap dapat mengendalikan fenomena peri-urbanisasi yang terjadi di Kecamatan Lembang, khususnya Desa Cibodas. Dengan mengacu pada teori peri-urbanisasi, teori agrowisata, teori pengembangan pariwisata di pinggiran kota, serta peraturan perundangan/kebijakan yang berlaku terkait pengembangan agrowisata di Desa Cibodas, studi ini mendalami seberapa besar pengaruh pengembangan agrowisata berperan dalam mengendalikan peri-urbanisasi. Melalui studi literatur, wawancara semi terstruktur, dan observasi, dilakukan analisis konten dan naratif yang menunjukkan bahwa pengembangan agrowisata berbasis masyarakat di Desa Cibodas berperan positif dalam mengendalikan peri-urbanisasi. Namun demikian, ditemukan beberapa hal yang menghambat pengembangan agrowisata berbasis masyarakat dikarenakan kapasitas masyarakat yang masih minim dan kurangnya dukungan dari pemerintah dan swasta dalam mengembangkan agrowisata di Desa Cibodas. Dengan teridentifikasinya pengembangan agrowisata di Desa Cibodas yang berperan positif terhadap peri-urbanisasi ini, maka studi ini dapat menyimpulkan bahwa agrowisata berbasis masyarakat merupakan pengembangan pariwisata yang mampu mempertahankan identitas kawasan pinggiran kota yang selama ini semakin bergeser akibat dari perkembangan kawasan perkotaan yang tidak terkendalikan
Efisiensi Ekonomi Skema Pembiayaan PPP "Availability Payment" Infrastruktur Telekomunikasi Palapa Ring Barat
Sub Judul
Call Number TA/2018/2504 ZAH
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang ZAHRA, Fakhrisya Ayutia -
Subyek Pradono, SE., M.Ec.Dev., Dr. Eng.,Prof
Deskripsi Infrastruktur Telekomunikasi Palapa Ring Barat merupakan salah satu rangkaian dari Infrastruktur Telekomunikasi Palapa Ring sebagai perwujudan pemenuhan infrastruktur serat optik yang direncanakan dalam RPJMN 2015-2019 yang merupakan salah satu upaya pengentasan kesenjangan akses informasi nasional. Innfrastruktur serat optik dinilai menyediakan konektivitas broadband (jaringan telekomunikasi berkecepatan tinggi) nasional seperti yang tercantum pada Indonesia Broadband Plan 2014-2019. Dalam pengembangannya, akibat adanya gap antara kebutuhan dana untuk pengembangan infrastruktur nasional dengan ketersediaan APBN/APBD dalam menyediakan kebutuhan tersebut, maka pemerintah menggunakan skema Public Private Partnership (PPP) dengan metode pembayaran "Availability Payment" kepada mitra swasta dalam pembiayaan sebagai serangkaian inovasi pembiayaan guna mencapai efisiensi ekonomi yang erat kaitannya dengan "Value for Money" agar tidak membebani APBN/APBD. Dengan mengacu pada kerangka analisis dengan keluaran kuantitatif melalui kombinasi pemodelan Public Sector Comparator (PSC) yang merupakan gabungan dari analisis Life Cycle Cost dan analisis Risk Assessment yang digunakan sebagai hipotesis skema pembiayaan tradisional sebagai pembanding skema pembiayaan eksisting PPP dengan metode pembayaran "Availability Payment" serta analisis kualitatif berdasarkan parameter optimalisasi "Value for Money" bagi skema pembiayaan Infrastruktur yang bersumber dari literatur, penelitian ini menilai efisiensi ekonomi skema pembiaayaan PPP dengan metode pembayaran "Availability Payment" Infrastruktur Telekomunikasi Palapa Ring Barat dalam rangka perwujudan tujuan konektivitas jaringan telekomunikasi broadband nasional.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih Komunal Di Kawasan Padat Penduduk
Sub Judul
Call Number TA/2018/2503 AGN
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang AGNELIA, Devy Paramitha -
Subyek Sri Maryati, ST., MIP., Dr
Deskripsi Dengan terbatasnya cakupan pelayanan air bersih publik oleh pemerintah di Indonesia terutama di kawasan padat penduduk, maka masyarakat dituntut untuk memiliki peranserta atau partisipasi dalam penyediaan air bersih. Salah satu bentuk penyediaan air bersih yang sesuai dengan konsep partisipasi masyarakat tersebut yaitu sarana air bersih komunal. Sarana air bersih komunal merupakan suatu penyediaan air bersih yang pembangunan dan pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat dengan skala pelayanan yang kecil. Keberhasilan pembangunan infrastruktur air bersih komunal berbasis masyarakat sangat bergantung partisipasi dari masyarakat dalam mengelolanya. Tidak jarang sarana komunal yang sudah dibangun oleh masyarakat menjadi terbengkalai karena ketidakmampuan masyarakat penggunanya dalam mengelola infrastruktur tersebut.Oleh karena itu, partisipasi memiliki posisi penting dalam tercapainya pembangunan infrastruktur, terutama infrastruktur yang berbasis masyarakat. Salah satu infrastruktur air bersih komunal berbasis masyarakat yang dikelola hingga saat ini berada di RW 7 dan RW 8, Kelurahan Lebak Siliwangi, Kota Bandung. Bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur air bersih komunal di kedua wilayah tersebut sebagian besar berbentuk uang, dan bentuk partisipasi dalam tahap pemeliharaan infrastruktur berupa iuran sesuai tarif di masing-masing wilayah. Kemudian, tingkat partisipasi di RW 7 dan 8 dalam tahap pembangunan infrastruktur air bersih komunal dalam tingkat sedang, dan di tahap pemeliharaan, tingkat partisipasi di RW 7 termasuk dalam kategori rendah, sedangkan RW 8 dalam kategori sedang. Dengan menggunakan analisis komparasi melalui metode Mann-Whitney U, didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan tingkat partisipasi masyarakat dalam tahap pemeliharaan infrastruktur air bersih komunal, sedangkan dalam tahap pembangunan tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Perbedaan tersebut jika dikaitkan dengan kondisi air bersih di kedua RW, dimana kuantitas dan kualitas air bersih komunal di RW 8 saat ini lebih baik dibandingkan di RW 7 sedangkan pada awal pembangunan keduanya memiliki kuantitas dan kualitas yang sama, maka dapat dikatakan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan infrastruktur air bersih komunal memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan pelayanan dari air bersih komunal. Kemudian, dengan menggunakan analisis korelasional melalui metode Kendall-Tau B, didapatkan hasil bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan infrastruktur air bersih komunal dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor sosial dengan variabel hubungan dengan masyarakat sekitar dalam tahap pembangunan infrastruktur, serta faktor sosial dengan variael pengalaman berorganisasi, dan faktor fisik dengan variabel usia dan lama bermukim dalam tahap pemeliharaan infrastruktur air bersih komuna
Potensi Perubahan Moda Transportasi Ke Kampus Dengan Sepeda Pada Mahasiswa Institut Teknologi Bandung
Sub Judul
Call Number TA/2018/2502 AND
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang ANDANI, Fransiska Puspa Putri -
Subyek Iwan Pratoyo Kusumantoro, Ir., MT., Dr.
Deskripsi Satu masalah yang dihadapi kota-kota besar saat ini adalah masalah kemacetan dan polusi udara. Upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini salah satunya adalah dengan menerapkan sistem transportasi berkelanjutan. Sistem transportasi berkelanjutan menekankan pada penggunaan moda transportasi yang ramah lingkungan, yaitu penggunaan moda transportasi tidak bermotor atau penggunaan transportasi masal. Sepeda merupakan salah satu moda transportasi yang ramah lingkungan dan cocok untuk digunakan pada perjalanan jarak dekat. Jika dilihat berdasarkan karakteristik sosial, ekonomi, dan perjalanan, diketahui bahwa mahasiswa ITB rata-rata bertempat tinggal berdekatan dengan lokasi kampus sehingga sangat berpotensi untuk menggunakan sepeda. Namun tidak semua orang tertarik bersepeda. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui kelompok mahasiswa ITB yang berpotensi untuk mensubtitusi moda transportasi ke kampus dengan sepeda dan mengetahui perubahan pada fasilitas sepeda yang dapat mendorong penggunaan sepeda ke kampus. Data diperoleh melalui data sekunder dari PPID ITB dan data primer dengan membagikan kuesioner pada mahasiswa ITB program sarjana yang bertempat tinggal <5 Km dari kampus. Diperoleh hasil bahwa kelompok mahasiswa yang berpotensi mensubtitusi moda transportasi ke kampus dengan sepeda adalah kelompok mahasiswa yang tidak mengalami kesulitan bersepeda di lalu lintas padat, tinggal pada jarak 1-3 Km dan memiliki pengeluaran 1-2 juta. Perubahan fasilitas sepeda yang dibutuhkan untuk mendorong penggunaan sepeda lebih mengarah pada penyediaan jalur dan parkir sepeda yang aman dan nyaman, penerangan yang baik, penyediaan penyewaan sepeda, dan hukum yang lebih adil bagi pesepeda.
Penentuan Intensitas Bangunan Koridor Jalan Raya Panembahan Berdasarkan Kapasitas Jalan
Sub Judul
Call Number TA/2018/2501 TOP
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang TOPANESA, Muhamad Lutfi Hakim -
Subyek Pradono, SE., M.Ec.Dev., Dr. Eng.,Prof
Deskripsi Pengembangan fungsi kawasan perkotaan pada Pusat Kegiatan Nasional (PKN) diarahkan sebagai pusat permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi. Salah satu yang diatur dalam intensitas pemanfaatan ruang adalah intensitas bangunan. Semakin tinggi intensitas bangunan, maka akan menambah bangkitan pergerakan sehingga mempengaruhi kapasitas jalan yang tersedia. Intensitas bangunan di koridor Jalan Raya Panembahan sebagai jalan arteri primer di PKN Metropolitan Cirebon belum ditentukan berdasarkan kapasitas jalan yang tersedia. Ketentuan intensitas bangunan yang tinggi dapat menyebabkan turunnya tingkat pelayanan jalan. Studi ini bertujuan untuk menentukan intensitas bangunan koridor Jalan Raya Panembahan berdasarkan kapasitas jalannya, sebagai bentuk pengendalian pemanfaatan ruang (zoning) dan Transport Demand Management (TDM). Penelitian ini menggunakan kapasitas jalan (supply) sebagai konstrain, dan demand yang diatur adalah intensitas bangunan berupa KLB. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa KLB maksimum yang diterapkan oleh Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Penataan Ruang Kabupaten Cirebon saat ini tidak sesuai dengan kapasitas jalan yang tersedia. Hal tersebut terlihat dari nilai VCR hasil simulasi penerapan KLB maksimum yaitu sebesar 2,1, sehingga kondisi koridor Jalan Raya Panembahan berada pada Level of Service F (kondisi sangat buruk). Agar dapat ditampung, intensitas bangunan yang diterapkan oleh Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Penataan Ruang Kabupaten Cirebon harus diturunkan.
Peran Inovasi Pelaku Usaha Industri Rajut Binongjati Terhadap Keberlanjutan Usaha Sebagai Industri Kreatif Kota Bandung
Sub Judul
Call Number TA/2018/2500 ROS
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang ROSANDI, Vely Brian -
Subyek Adiwan Fahlan Aritenang, ST., M.GIT., Ph.D
Deskripsi Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk inovasi yang dilakukan oleh pelaku usaha Sentra Industri Rajut Binongjati, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Dan bagaimana pengaruhnya terhadap keberlanjutan usaha sebagai industri kreatif Kota Bandung. Untuk mencapai tujuan tersebut, selain melihat sejarah muncul dan perkembangan sentra industri rajut, peneliti juga menganalisis beberapa variabel terkait bentuk inovasi dan keberlanjutan usaha sebagai industri kreatif serta keterkaitan antara keduanya. Variabel terkait bentuk inovasi tersebut merupakan turunan dari konsep yang dikemukakan oleh Rogers (2003), Johhanessen (2001), serta Guideline pelaksanaan inovasi dari OECD Oslo Manual yang meliputi Inovasi Produk, Inovasi Proses, Inovasi Manajemen, dan Inovasi Pemasaran. Kemudian terkait variabel yang menjadi indikator didalam keberlanjutan usaha, menggunakan turunan konsep yang dikemukakan oleh Fatoki (2014) serta Rogers dalam Dibra (2015). Selanjutnya terkait Konsep Industri dan Ekonomi Kreatif menggunakan teori yang dikemukakan oleh Florida (2012) dan Fahmi (2016), serta Panduan dari UNCTAD (2013) dan DCMS (2013). Selain itu terkait dengan potensi sektor industri kreatif dalam pengembangan ekonomi lokal menggunakan teori dan konsep yang dikemukakan oleh Firman (1999) dan Coffey&Polese (1984). Yang kemudian dilakukan tinjauan terhadap pengaruh inovasi dengan keberlanjutan usaha menggunakan teori dan konsep yang dikemukakan oleh WCED (1987) dan Boons&Ludekefreund (2013). Dari seluruh hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sentra Industri Kreatif Rajut Binongjati dapat ditemukan bentuk-bentuk inovasi yang dilakukan berupa inovasi pada aspek produk, inovasi pada aspek proses, inovasi pada aspek manajemen serta inovasi pada aspek pemasaran. Namun secara umum inovasi yang berpengaruh secara signifikan terhadap keberlanjutan usaha rajut di Binongjati meliputi tiga bentuk inovasi saja yaitu: inovasi pada aspek produk yang berupa inovasi terkait desain rajut, inovasi pada aspek manajemen yang berupa inovasi terkait manajemen tenaga kerja, serta inovasi pada aspek pemasaran yang berupa inovasi terkait promosi dan wilayah pemasaran
Penentuan Kebutuhan Ruang Parkir Hotel Di Kota Bandung Berdasarkan Kondisi Spasial Dengan Pendekatan Permintaan Dan Penyediaan
Sub Judul
Call Number TA/2018/2499 TIA
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang TIARDI, Khairana -
Subyek Shanty Yulianti Rachmat, ST, MT., Ph.D
Deskripsi Parkir merupakan salah satu komponen penting dalam sistem transportasi kota karena kendaraan tidak akan selamanya bergerak. Penyediaan parkir akan berbeda karena adanya perbedaan permintaan kondisi spasial pada guna lahan dan kegiatan yang berbeda. Penyediaan parkir yang baik yang baik adalah pernyediaan yang efisien, yaitu tidak kurang dan tidak berlebih. Saat ini masih banyak wisatawan yang datang ke Kota Bandung menggunakan kendaraan pribadi sehingga berimplikasi pula pada kebutuhan parkir hotel. Standar yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat tahun 1996 belum mengatur kegiatan yang berada pada kondisi spasial yang berbeda. Penelitian ini akan memodelkan kebutuhan ruang parkir hotel di Kota Bandung berdasarkan kondisi spasial yang berbeda. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan penyediaan dan permintaan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis konten, deskriptif, regresi, dan rasio. Analisis konten dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menentukan permintaan parkir. Analisis deskriptif dilakukan untuk menggambarkan kondisi permintaan dan penyediaan parkir hotel saat ini beserta dengan evaluasi penyediaannya. Analisis regresi dan rasio dilakukan untuk merumuskan model yang menentukan kebutuhan ruang parkir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa standar yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat tahun 1996 kurang cocok untuk diterapkan. Model yang terbentuk dari studi ini adalah model untuk seluruh hotel yang dikaji, dalam kawasan kemacetan, dan dalam kawasan TOD. Seluruh hotel yang dikaji perlu menyediakan 14 SRP per 100 orang kapasitas RSG. Setiap hotel pada kawasan kemacetan perlu menyediakan 5 SRP per 1.000 m2 luas bangunan. Setiap hotel pada kawasan TOD perlu menyediakan 7 SRP serta diperlukan tambahan 5 SRP per 1.000 m2 luas bangunan dan mengurangi 1 SRP per Rp100.000,00 tarif hotel.
Ketercapaian Skala Optimal Dari Penyediaan Air Minum Publik Di Kawasan Metropolitan Bandung Raya
Sub Judul
Call Number TA/2018/2498 WIL
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang WILWATIKTA, Maudina -
Subyek Sri Maryati, ST., MIP., Dr
Deskripsi Banyaknya Unit Produksi Sistem Penyediaan Air minum publik dengan rentang skala produksi yang jauh menimbulkan kecurigaan bahwa unit-unit produksi tersebut tidak mengeluarkan biaya secara efisien. Secara umum, efisiensi dapat tercapai jika volume produksi mencapai skala optimalnya. Skala optimal sendiri dapat diidentifikasi jika terbukti memiliki ekonomisasi skala. Ekonomisasi skala adalah suatu karakteristik dimana harga satuan suatu produk akan menurun jika diproduksi secara missal. Biasanya karakteristik ini terdapat pada industri berskala besar. Jika ekonomisasi skala terbukti keberadaannya maka titik terendah dari fungsi biaya merupakan skala optimalnya. Fungsi biaya total sendiri merupakan fungsi transenden logaritma yang koefisiennya didapatkan dengan cara regresi, biaya total yang dimaksud merupakan penjumlahan dari komponen-komponen modal pengolahan air seperti pajak air, biaya bahan kimia, biaya energi, upah, sewa lahan, pemeliharaan, depresiasi dan biaya tak terduga. Penelitian ini telah menemukan keberadaan dari ekonomisasi skala dalam sistem penyediaan air minum di Kawasan Metropolitan Bandung Raya. Skala optimal yang didapatkan bervariasi sesuai dengan sumber air bakunya, pengolahan air yang bersumber dari air permukaan memiliki skala optimal sebesar 6,342,545 m3/tahun instalasi pengolahan air tanah memiliki skala optimal sebesar 2,444,380 m3/tahun dan yang terakhir untuk mata air skala optimalnya adalah 3,212,494 m3/tahun.
Model Sistem Penyediaan Air Minum di Kawasan Permukiman Kumuh Kota Bandung
Sub Judul
Call Number TA/2018/2497 KIR
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang KIRANA, Gregoria Junita -
Subyek Sri Maryati, ST., MIP., Dr
Deskripsi Berdasarkan Buku I Agenda Pembangunan Nasional Lampiran Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019, terdapat sasaran terkait pelayanan air minum yaitu tercapainya 100% pelayanan air minum bagi seluruh penduduk Indonesia yang dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu optimalisasi dan pembangunan baru (supply side), peningkatan efisiensi layanan air minum (demand side), dan penciptaan lingkungan yang kondusif (enabling environment). Sasaran ini berlaku untuk seluruh kota dan kabupaten di Indonesia termasuk Kota Bandung. Namun, masih terdapat penduduk yang belum dapat mengakses air minum yang cukup dan aman khususnya penduduk yang tinggal di kawasan permukiman kumuh. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi model SPAM yang paling sesuai di kawasan permukiman kumuh agar penyelenggaraan SPAM menjadi lebih efektif dan efisien. Pertama-tama ditentukan faktor yang memengaruhi penentuan model SPAM di kawasan permukiman kumuh berdasarkan tinjaun literatur. Kemudian, faktor tersebut diberikan bobot dengan metode AHP berdasarkan kuesioner berpasangan yang diberikan pada stakeholder maupun ahli. Bobot pada AHP tersebut bersama dengan penilaian kriteria faktor digunakan untuk menentukan model SPAM yang paling sesuai di setiap kawasan. Hasil dari analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sambungan langsung PDAM paling sesuai di Kelurahan Cigondewah Rahayu, Kelurahan Nyengseret, dan Kelurahan Ciroyom. Swadaya sambungan langsung sumur bor komunal paling sesuai di Kelurahan Tamansari, Kelurahan Pajajaran, Kelurahan Husen Sastranegara, Kelurahan Babakan Surabaya, Kelurahan Cigondewah Kidul, Kelurahan Campaka, dan Kelurahan Babakan. Swadaya sambungan langsung sumur bor komunal dengan bantuan pemerintah paling sesuai di Kelurahan Arjuna, Kelurahan Sukabungah, dan Kelurahan Antapani Wetan. Swadaya kran umum sumur bor komunal paling sesuai di Kelurahan Babakan Ciamis dan Kelurahan Binong
Identifikasi Kesiapan Kota Bandung Sebagai Destinasi Pariwisata Halal
Sub Judul
Call Number TA/2018/2496 ZUH
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang ZUHRI, Himdi Achmad -
Subyek Alhilal Furqan, BSc, MSc, Ph.D
Deskripsi Perkembangan perekonomian masyarakat muslim dunia yang hingga tahun 2015 mencapai 1,9 triliun dollar memiliki dampak terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan muslim menuju destinasi wisata ke berbagai negara. Bagi negara yang menjadikan pariwisata sebagai salah satu andalan pemasukan pendapatan negaranya, maka negara-negara tersebut mulai mengembangkan Pariwisata Halal. Dengan melihat baiknya prospek dan potensi pasar wisatawan muslim pada negara-negara yang telah mengembangkan Pariwisata Halal, maka Indonesia pun mulai mengembangkan Pariwisata Halal. Rencana pembangunan kepariwisataan di tingkat nasional menjadi pedoman bagi penyusunan pembangunan pariwisata di tingkat daerah salah satunya pariwisata di Kota Bandung. Untuk merealisasikan rencana pengembangan Pariwisata Halal Kota Bandung perlu adanya tinjauan kesiapan untuk menjadi destinasi Pariwisata Halal. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis campuran dengan menggabungkan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berupa wawancara dan data sekunder berupa data statistik, dokumen peraturan, dan dokumen kajian. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kota Bandung sudah cukup siap sebagai destinasi Pariwisata Halal berdasarkan kebijakan dan komponen penyusun Pariwisata Halal. Hasil tinjauan kesiapan tersebut berguna untuk mempermudah pengambil kebijakan dan pelaku usaha pariwisata dalam memanfaatkan peluang Pariwisata Halal secara optimal
Pengaruh Program Kampung Tematik Terhadap Kualitas Ruang (Kampung Warna-Warni Jodipan Di Kota Malang)
Sub Judul
Call Number TA/2018/2495 SET
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang SETYADI, Bernardus Andre -
Subyek Denny Zulkaidi, Ir., MUP.,Dr.
Deskripsi Kualitas ruang yang baik akan memberikan daya dukung yang optimal bagi kelangsungan hidup manusia di suatu wilayah . Dewasa ini banyak berkembang berbagai program guna meningkatkan kualitas ruang khususnya di kawasan perkampungan kota. Salah Satu program tersebut yakni Program Kampung Tematik yang telah diterapkan Pemerintah Kota Malang. Kota Malang merupakan salah satu kota yang memanfaatkan potensi kampung kota sebagai basis pembangunan kotanya melalui program kampung tematik. Salah satu contoh perubahan paling signifikan dari program tersebut adalah Kampung warana-warni Jodipan yang terletak di Kelurahan Jodipan, tepi Sungai Brantas. Kampung yang tidak tertata dan tidak teratur, ditambah lagi dengan letaknya yang berada di bantaran sungai sehingga terlihat kumuh, kini menjadi destinasi wisata populer di Kota Malang karena keindahannya. Namun Program Kampung Tematik tersebut tidak dapat terus dilakukan tanpa melihat seberapa besar pengaruh yang telah dihasilkan terhadap peningkatan kualitas ruang. Penelitian evaluasi ini menggunakan pendekatan evaluasi semu. Di awal penelitian dihasilkan delapan kriteria untuk mengukur kualitas ruang kampung yakni kenyamanan, kesehatan, keamanan, keselamatan, kesejahteraan, aksesibilitas, kelengkapan, dan daya tarik yang masing-masing diturunkan ke dalam beberapa indikator penilaian. Berdasarkan kriteria dan indikator yang telah disusun akan ditinjau kualitas ruang secara obyektif melalui observasi dan secara subyektif melalui hasil persepsi penghuni. Berdasarkan hasil peneletian ini didapatkan bahwa Program Kampung Tematik tidak hanya mengubah tampilan luar Kampung Warna-Warni Jodipan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terdapat beberapa kriteria kualitas ruang yang turut meningkat oleh adanya pengaruh dari Program Kampung Tematik khususnya kesehatan, keamanan, kesejahteraan, kelengkapan, dan daya tarik. Terdapat pula tiga kriteria kualitas ruang kampung yang tidak mengalami perubahan oleh adanya program tersebut, yakni kenyamanan, keselamatan, dan aksesibilitas. Berdasarkan hasil evaluasi tidak diperoleh kriteria kualitas ruang kampung yang menurun oleh adanya program tersebut. Sehingga pada akhirnya, secara kumulatif Program Kampung Tematik berhasil meningkatkan Kualitas Ruang Kampung Warna-Warni Jodipan.
Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Pola Penggunaan Ruang Industri Kreatif Fesyen Wanita Di Kota Bandung
Sub Judul
Call Number TA/2018/2494 RAC
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang RACHMAN, Tiara Hasna -
Subyek Fikri Zul Fahmi, ST., M.Sc., Ph.D
Deskripsi Industri kreatif fesyen memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap PDB di Kota Bandung. Seiring perkembangan teknologi, semakin banyak pelaku industri kreatif fesyen wanita yang memulai bisnis lewat media sosial. Dalam aktivitas industri kreatif fesyen yang sebelumnya memerlukan banyak ruang untuk kegiatan diskusi pengembangan ide, berbagai macam proses produksi, komersialisasi produk, hingga penjualan dan distribusi secara langsung kepada konsumen, saat ini dapat mulai dilakukan dengan menggunakan media sosial atau dengan penggunaan ruang yang minim. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh media sosial terhadap pola penggunaan ruang dalam kegiatan industri kreatif fesyen wanita., Dilakukan survei terhadap pelaku industri kreatif fesyen wanita di Kota Bandung yang memiliki toko offline dan aktif menggunakan media sosial. Setelah itu, data diolah dengan analisis isi dan koding untuk mengetahui bagaimana penggunaan ruang dalam empat kegiatan utama industri kreatif fesyen serta pengaruh media sosial dalam setiap kegiatannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa media sosial memengaruhi kegiatan oengembangan desain, komersialisasi dan distribusi serta pernjualan. Selain itu terjadi perubahan pola penggunaan ruang pada tahap komersialisasi setelah maraknya penggunaan media. Diketahui juga bahwa kegiatan produksi masih menggunakan media sosial dengan intensitas rendah. Fungsi ritel yang sebelumnya digunakan sebagai tempat jual beli, sedikit terkikis karena jumlah pengunjung yang menurun sehingga saat ini pelaku industri menggunakan ritel sebagai fasilitas pelengkap dan tempat experiencing untuk menggambarkan image perusahaan. Berdasarkan simpulan-simpulan tersebut, penelitian ini merekomendasikan pengembangan ruang industri kreatif fesyen wanita dengan cara optimalisasi media sosial yang didukung oleh semua pihak agar tercipta ruang yang dapat digunakan untuk mempertahankan eksistensi pelaku industri kreatif fesyen wanita di Kota Bandung.
Pengaruh Rencana Pola Ruang Terhadap Prospek Penerapan Infrastruktur Hijau di Sub-DAS Cikapundung
Sub Judul
Call Number TA/2018/2493 SAG
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang SAGITA, Dinda Ayu -
Subyek Denny Zulkaidi, Ir., MUP.,Dr.
Deskripsi Infrastruktur hijau sebagai jaringan konservasi tata hidrologi tanah saling terkoneksi antara area dankoridor hijau dapat dipandang sebagai daerah optimalisasi tangkapan air yang berfungsi dalam menyerap limpasan air permukaan. Kejadian banjir atau genangan dan penurunan muka tanah di wilayah Sub-DAS Cikapundung terjadi karena berkurangnya daerah resapan air, untuk mempertahankan fungsi resapan air di wilayah Sub-DAS Cikapundung dapat diterapkan infrastruktur hijau. Perubahan tata guna lahan atau pola ruang menjadi kedap air dapat mempengaruhi prospek penerapan infrastruktur hijau di wilayah Sub-DAS Cikapundung. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi pengaruh rencana pola ruang terhadap prospek penerapan infrastruktur hijau di wilayah Sub-DAS Cikapundung. Metode analisis potensi penerapan infrastruktur hijau yang digunakan berdasarkan kriteria model SUSTAIN yang dikeluarkan oleh U.S Environmental Protection Agency (EPA) yaitu Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, analisis menggunakan perangkat lunak ArcMap 10.3. Untuk memperkirakan perbandingan kemampuan penyerapan limpasan oleh infrastruktur hijau pada kondisi pola ruang yang berbeda digunakan metode Soil Conservation Service (SCS). Hasil analisis menunjukkan bahwa rencana pola ruang wilayah Sub-DAS Cikapundung tahun 2036 dapat mengurangi prospek penerapan infrastruktur hijau potensial pada pola ruang tahun 2011, yaitu dapat mengurangi infrastruktur hijau potensial tahun 2011 sebesar 35,60% atau seluas 7.026,09 Ha dan mengurangi kemampuan penyerapan limpasan oleh infrastruktur hijau sebesar 13,23% atau mengurangi potensi luas penerapanya seluas 1.185.510,23 m3.
Mewujudkan Kabupaten Tasikmalaya Sebagai Kota Kreatif: Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ITB Tahun 2017 (Pendampingan Aktor Lokal Dalam Perencanaan Kota Kreatif Berbasis Potensi Daerah di Kabupaten Tasikmalaya
Sub Judul
Call Number 001/KR/2018 ARI
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang ARITENANG, Adiwan Fahlan - Fikri Zul Fahmi., Tessa Talitha dan Nabilla Dina Adharina
Subyek Pengembangan Wilayah dan Pedesaan
Deskripsi
Prinsip Perancangan Koridor Jalan Siliwangi, Kabupaten Kuningan Berdasarkan Kebutuhan Pengunjung Dan Pedagang
Sub Judul
Call Number TA/2018/2492 JAN
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang JANITRA, Muhammad Rafialdy -
Subyek Petrus Natalivan Indradjati, ST., MT., Dr
Deskripsi Seringkali ditemui bahwa fungsi koridor jalan terdiferensiasi seiring perkembangan kegiatan di sekitarnya, bahkan fungsinya sebagai ruang publik sering tergeser. Pengelolaan yang kurang tepat memunculkan persoalan dan konflik dalam penggunaan ruang koridor jalan. Begitupun ditemui pada koridor Jalan Siliwangi, Kabupaten Kuningan, sebagai koridor utama pada Kawasan Perkotaan Kuningan, keterbatasan ruang publik dan perkembangan intensitas kegiatan dan lalu lintas menimbulkan persoalan secara fisik dan spasial. Diperlukan prinsip perancangan yang menyeluruh dan mempertimbangkan kebutuhan penggunanya untuk menjaga kinerja koridor dan kegiatan di dalamnya. Penelitian ini bertujuan merumuskan prinsip perancangan koridor Jalan Siliwangi, Kabupaten Kuningan untuk mengoptimalkan kinerja koridor jalan dan fungsi komersial kawasan dengan memperhatikan kebutuhan pedagang dan pengunjung. Dalam perancangan koridor Jalan Siliwangi diperlukan perngaturan terhadap ruang jalan, ruang pejalan kaki, serta ruang bangunan dan halaman yang dapat diakses publik. Prinsip perancangan menjelaskan penanganan terhadap masing-masing komponen yang didasarkan pada kriteria kenyamanan, aksesibilitas, keselamatan, keamanan, dan keindahan serta mempertimbangkan kebutuhan pengunjung dan pedagang. Perancangan koridor Jalan Siliwangi diarahkan pada pembentukan koridor yang akomodatif terhadap kebutuhan pengunjung dan pedagang serta mendukung kegiatan yang beragam di koridor tersebut melalui penyediaan fasilitas publik, peningkatan aksesibilitas, serta peningkatan kualitas ruang koridor.
Identifikasi Profil Ancaman, Kerentanan, Kapasitas Sebagai Faktor Kontributor Bencana Banjir, dan Analisa Tingkat Risiko Banjir pada Kawasan DAS Citepus Kota Bandung
Sub Judul
Call Number TA/2018/2491 RAF
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang RAFIE, Audiza -
Subyek Harkunti Pertiwi Rahayu, Ir., Ph.D
Deskripsi Bencana banjir yang terjadi di Kawasan Pasteur dan Kawasan Pagarsih pada tahun 2016 telah menyebabkan kerugian sumber daya dan kelumpuhan sebagian kegiatan di Kota Bandung. Bencana tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang terdapat pada Kawasan DAS Citepus. Kawasan DAS Citepus merupakan bagian dari sistem aliran sungai lintas batas administrasi. Penanganan banjir pada Kawasan DAS Citepus sangat sering dilakukan, namun, permasalahan banjir terus terjadi. Sebagai upaya dalam menghadapi banjir maka dibutuhkan suatu perencanaan mitigasi bencana banjir pada kawasan terkait. Hal ini kemudian mendorong perlunya Identifikasi profil faktor kontributor bencana banjir dan tingkat risiko bencana banjir. Wilayah studi yang dipilih adalah Kawasan DAS Citepus yang terletak di Kota Bandung. Dalam penelitian ini terdapat 3 komponen faktor kontributor bencana banjir yang menyusun risiko. Komponen tersebut adalah ancaman, kerentanan, dan kapasitas. Selain itu, tingkat risiko bencana banjir diperoleh berdasarkan variabel ancaman dan kerentanan pada tiap kecamatan. Profil komponen kontributor banjir diperoleh dengan menggunakan analisa spasial dan statistik deskriptif. Penelitian ini menemukan bahwa Kecamatan Astanaanyar dan Kecamatan Sukajadi merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana banjir yang tinggi pada kawasan DAS Citepus Kota Bandung yang dibuktikan melalui analisa skoring.
Penilaian Kinerja Klaster Kreatif Dago Kota Bandung
Sub Judul
Call Number TA/2018/2490 KAR
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang KARTIKASARI, Nadia -
Subyek Denny Zulkaidi, Ir., MUP.,Dr.
Deskripsi Kota Kreatif merupakan suatu konsep pengembangan kota yang menyelesaikan berbagai persoalan kota melalui kreativitas. Kota Kreatif memiliki tiga aspek penunjang yang dibutuhkan untuk mengatasi dan mencegah berbagai persoalan kota, yaitu ekonomi kreatif, kelas kreatif, dan lingkungan kreatif yang memadai. Namun, Kota Bandung sebagai kota kreatif belum memiliki pengembangan dan perencanaan pada aspek lingkungan kreatif maupun klaster kreatif. Pengembangan dan perencanaan klaster kreatif perlu memerhatikan titik awal kinerja yang berbeda-beda antar-lingkungan yang ada. Titik awal tersebut dapat menjadi dasar bagi perencanaan dan pengembangan. Maka dari itu, tujuan penelitian, adalah menilai kinerja klaster kreatif di Kota Bandung, khususnya pada Klaster Kreatif Dago. Tujuan tersebut dicapai dengan mengidentifikasi indikator penilaian kinerja klaster kreatif serta kondisi komponen indikator kinerja klaster kreatif di Kota Bandung. Indikator penilaian kinerja klaster kreatif dirumuskan melalui studi kepustakaan terhadap konsep kota kreatif, konsep klaster kreatif, dan studi kasus di berbagai negara dan konteks sektoral. Kondisi komponen didapatkan dengan menganalisis hasil observasi, kuesioner, wawancara, dan data sekunder. Dari hasil analisis, didapatkan empat perspektif penilaian berdasarkan pendekatan balanced scorecard dan komponennya, yaitu perspektif keuangan dan tata kelola dengan komponen kapasitas ekonomi, perspektif customer dan stakeholder dengan komponen kondisi masyarakat, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dengan komponen talent dan infrastruktur keras, serta perspektif proses internal klaster dengan komponen inovasi, knowledge spillover, dan infrastruktur lunak. Berdasarkan hasil analisis sasaran kedua, didapatkan kinerja klaster kreatif Dago dari segi keuangan dan tata kelola adalah kurang baik (nilai 50/100). Kinerja klaster dari segi customer dan stakeholder adalah baik (nilai 85,7/100). Kinerja klaster dari segi pembelajaran dan pertumbuhan adalah baik (nilai 95/100). Kinerja klaster dari segi proses internal klaster adalah kurang baik, (nilai 46,7/100). Dengan demikian, didapatkan bahwa kinerja Klaster Kreatif Dago secara umum adalah cukup baik (nilai 69,4/100). Klaster Kreatif Dago perlu merumuskan strategi dan kebijakan untuk meningkatkan jumlah industri kreatif dan tenaga kerja, serapan tenaga kerja lokal, penggunaan produk lokal, pemanfaatan teknologi, hubungan kemitraan industri kreatif, kemudahan akses lembaga keuangan dan nilai investasi. Selain itu, Klaster Kreatif Dago juga perlu memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan, ketersediaan database ekonomi kreatif, dan dokumen kebijakan klaster kreatif.
Analisis Perubahan Livelihoods Masyarakat Bukit Duri Dan Pasar Ikan Pasca Relokasi Ke Rusunawa Rawa Bebek, Jakarta
Sub Judul
Call Number TA/2018/2489 OKT
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang OKTAVIA, Dina -
Subyek Haryo Winarso, Ir., M.Eng., Ph.D., Prof
Deskripsi Slum upgrading merupakan salah satu agenda internasional untuk menciptakan kota tanpa permukiman kumuh dan terwujudnya pembangunan yang layak huni, merata, serta berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Upaya ini juga berkaitan dengan pengentasan kemiskinan di perkotaan dalam ukuran livelihoods yang tidak hanya dinilai dari tingkat pendapatan tetapi juga dimensi aset lainnya. Relokasi merupakan salah satu bentuk slum upgrading oleh Pemerintah untuk menyediakan hunian yang layak. Hal ini diimplementasikan melalui program rusunawa yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat yang terdampak kebijakan relokasi. Penyediaan permukiman layak huni dan terjangkau berupa rusunawa dimaksudkan agar masyarakat dapat memiliki kehidupan yang layak dinilai dari peningkatan livelihoods nya. Namun, relokasi ke rusunawa dapat memberikan dampak terhadap perubahan livelihoods masyarakat tersebut secara keseluruhan. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi masyarakat Bukit Duri dan Pasar Ikan, Jakarta pasca relokasi ke Rusunawa Rawa Bebek yang dijelaskan berdasarkan variabel livelihoods. Metodologi dalam penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kuantitatif eksplanatori dari hasil wawancara, observasi, kuesioner penghuni rusunawa, dan kuesioner control area yang menjadi perbandingan antara kelompok yang terkena kebijakan dan yang tidak. Adapun hasil dari penelitian ini berupa perubahan livelihoods penghuni rusunawa sebelum dan setelah relokasi serta perbandingannya dengan livelihoods masyarakat di control area.
Karakteristik Pola Aktivitas Fisik Dan Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Tingkat Keramahan Lingkungan Untuk Pejalan Kaki Kasus: Perumahan Margahayu Raya
Sub Judul
Call Number TA/2018/2488 MAN
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang MANURUNG, Murni Elfrida BR -
Subyek Petrus Natalivan Indradjati, ST., MT., Dr
Deskripsi Banyak penelitian telah menunjukkan terdapat hubungan antara variabel-variabel lingkungan terbangun seperti: lahan campuran, kepadatan, fasilitas, dan jaringan jalan dengan perilaku aktivitas fisik seperti berjalan kaki dan bersepeda. Di Indonesia, kajian hubungan lingkungan yang ramah terhadap pejalan kaki dengan perilaku aktivitas fisik dan kesehatan masyarakat sangat terbatas, sehingga penelitian ini penting mengingat tingginya kematian akibat Penyakit Tidak Menular yang salah satu penyebabnya adalah karena kurang beraktivitas fisik. Melakukan aktivitas fisik yang cukup dan teratur setidaknya 150 menit per minggu dapat mengurangi faktor risiko kegemukan dan obesitas, hipertensi dan meningkatnya kadar gula darah dan lemak darah yang menjadi pemicu terjadinya penyakit jantung, stroke, diabetes dan kanker. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan karakteristik pola perilaku aktivitas fisik dan kesehatan masyarakat berdasarkan tingkat keramahan lingkungan untuk pejalan kaki di Perumahan Margahayu Raya Bandung. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis tujuan penelitian ini adalah eksploratif. Penelitian dilakukan di dua lingkungan perumahan yang berbeda, yaitu pada lingkungan perumahan yang cenderung lebih ramah pejalan kaki dan tidak yang dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik asosiasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perilaku aktivitas fisik masyarakat yang aktif di antara lingkungan perumahan yang cenderung lebih ramah pejalan kaki (Margahayu A) dan yang tidak (Margahayu B). Akan tetapi, perbedaan perilaku tersebut tidak jauh berbeda, yaitu hanya sebanyak 32 responden di Margahayu A aktif berjalan kaki dan 34 responden di Margahayu B aktif berjalan kaki, sehingga bentuk lingkungan terbangun belum mempengaruhi perilaku aktivitas fisik. Diketahui juga dari sejumlah responden yang aktif berjalan kaki, 11 diantaranya dengan Indeks Massa Tubuh berlebih (kegemukan dan obesitas) di Margahayu A, sedangkan di Margahayu B terdapat 15 responden. Analisis asosiasi mendapatkan bahwa kedekatan hubungan antara lingkungan dan kesehatan dengan perilaku berjalan kaki, bersepeda dan berolah raga sangat lemah, tetapi terdapat arah hubungan yang positif antara perilaku bersepeda dengan lingkungan dan kesehatan serta perilaku olah raga dengan lingkungan.
Pola Hubungan Transformasi Ekonomi dengan Kualitas Kehidupan Desa-desa di Pulau Jawa
Sub Judul
Call Number TA/2018/2487 FAJ
Tahun Terbit 2018
Penerbit Prodi PWK SAPPK ITB
Pengarang FAJRIANI, Khoirina -
Subyek Fikri Zul Fahmi, ST., M.Sc., Ph.D
Deskripsi Penelitian oleh Siboro (2015) menunjukkan bahwa Pulau Jawa telah mengalami transformasi struktur ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier selama rentang tahun 2004-2014. Transformasi ekonomi desa yang terjadi di Pulau Jawa menunjukkan bahwa sedang terjadi proses pembangunan ekonomi di Pulau Jawa. Namun masih belum diketahui secara jelas sejauh mana transformasi ekonomi desa yang terjadi di Pulau Jawa membawa perubahan pada aspek ekonomi, fisik, dan sosial. Sementara itu, kualitas kehidupan merupakan hal yang penting untuk dicapai dan merupakan tujuan dari suatu pembangunan. Terdapat bahasan yang problematik mengenai apakah terjadinya transformasi ekonomi desa sejalan dengan kualitas kehidupan yang lebih baik. Karenanya, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola hubungan transformasi ekonomi desa dengan kualitas kehidupan di Pulau Jawa. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan metode kuantitatif dengan memanfaatkan data statistik dari potensi desa di Pulau Jawa tahun 2003 dan 2014. Metodologi utama yang digunakan adalah dengan analisis statistik deskriptif untuk menjelaskan fenomena transformasi ekonomi desa di Pulau Jawa, pembentukan indeks komposit untuk mengetahui tingkat kualitas kehidupan desa di Pulau Jawa, serta analisis asosiasi untuk mengetahui hubungan transformasi ekonomi desa dengan kualitas kehidupan di Pulau Jawa. Hasil akhir analisis menunjukkan bahwa transformasi ekonomi desa tidak selalu memiliki hubungan yang positif terhadap seluruh komponen kualitas kehidupan. Transformasi ekonomi desa memiliki hubungan yang positif dengan kualitas infrastruktur, pendidikan, serta kesehatan dan memiliki hubungan yang negatif dengan kualitas lingkungan. Hal ini dapat terjadi karena transformasi ekonomi desa dapat mendorong peningkatan sarana dan prasarana desa serta akses masyarakat untuk menjangkau sarana dan prasarana tersebut. Namun transformasi ekonomi desa juga dapat memberikan dampak lingkungan ketika proses transformasi ekonomi tersebut tidak dikontrol dengan baik.
Login